Make money online is simple

11 Tanda Pria yang Tak Layak Dinikahi by Kiki Oktaviani - wolipop

Jakarta - Setiap wanita pasti ingin menikah dan membina bahtera rumah tangga yang bahagia sampai akhir hayat. Oleh karena itu ada baiknya, jangan terburu-buru untuk memutuskan menikah, kenali si dia terlebih dahulu.

Pria yang Anda kenal saat ini belum tentu sebaik yang Anda pikirkan. Wanita sering dibutakan oleh cinta. Kalo sudah memiliki perasaan yang besar, segalanya akan terasa indah dan Anda akan menuruti si dia meskipun ada perasaan mengganjal.

Yang perlu Anda ketahui, hubungan pacaran dan menikah jauh berbeda. Ada hal-hal mendasar di mana Anda dan dia harus saling bekerjasama, memberikan perhatian dan berkomunikasi dengan baik.

Maka dari itu, sebelum memutuskan untuk berumah tangga dengan si dia, sebaiknya kenali dulu dia lebih jauh. Bisa jadi kekasih Anda masuk ke dalam tanda-tanda pria yang tidak layak dinikahi berikut ini, seperti dikutip dari Lifescript:

1. Mendominasi Setiap Percakapan
Ada saatnya di mana Anda juga ingin mengungkapkan pendapat, namun Anda selalu gagal karena si dia mendominasi perbincangan. Kalau sudah begini, mungkin Anda membatalkan niat untuk berbicara dan memilih untuk mendengarkannya saja. Kondisi hubungan seperti ini tidak baik jika terjadi terus-menerus.

Sebuah hubungan akan semakin kuat jika masing-masing pasangan memiliki hak suara. "Agar hubungan berhasil, diperlukan sikap menghargai dan timbal balik. Jika seorang pria tidak mau mendengarkan Anda, karena dia mendominasi perbincangan, maka hubungan itu tidak akan menjadi lebih baik," ujar Jennifer Freed, Ph.D, seorang konsultan pernikahan dan keluarga di California.

2. Sering Mengkritik
Jika si dia sesekali mengkritik, hal itu masih bisa dianggap wajar. Dia mengkritik mungkin untuk kebaikan Anda. Tapi jika pria terlalu sering mengkritik di segala aspek tentu ini dapat mempengaruh psikologi Anda dan membuat Anda menjadi tidak nyaman dengan diri sendiri.

Jika si dia sering mulai mengkritik hal-hal kecil seperti cara berpakaian Anda, sebaiknya Anda perlu meninjau kembali hubungan asmara tersebut. Elizabeth Lombardo, Ph.D, psikolog dan penulis 'A Happy You (Morgan James)' memperingatkan wanita yang kekasihnya sering berkomentar negatif, baik secara terang-terangan atau menyindir.

"Komentar-komentarnya meskipun hanya sebagai lelucon, tapi bisa menjadi peringatan awal, pasangan Anda nantinya bisa mengkritik Anda lebih kasar lagi," papar Lombardo.

3. Dia Selalu Merasa Benar
Apakah si dia sering menganggap dirinya benar, bahkan ketika dia melakukan kesalahan? Kalau iya, Anda perlu waspada pada hubungan Anda. Freed mengatakan, sebuah hubungan memerlukan kompromi dan negosiasi.

"Jika Anda memulai hubungan dengan seseorang yang merasa selalu benar, maka ini sudah menjadi sebuah tanda yang buruk," tambah Freed.

4. Anda Tidak Suka dengan Keluarganya
Tentu Anda memiliki alasan sendiri mengapa tidak menyukai keluarga kekasih. Ini bisa menjadi sebuah sinyal buruk. Bagaimana Anda bisa berhubungan lama, jika ada sesuatu yang Anda tidak suka dari keluarga si dia.

5. Keluarga dan Teman Tidak Suka Dengannya
Jika keluarga dan teman mengatakan mereka tidak menyukai kekasih Anda, sebaiknya pertimbangkan kata-kata mereka. Keluarga dan teman merupakan orang yang sangat mengerti akan perubahan baik dan buruk Anda. Mereka bisa menilai secara jujur siapa kekasih Anda.

6. Memiliki Nilai yang Berbeda
Mudah saja untuk menentukkan apakah Anda cocok dengan seorang pria. Kecocokan bisa dilihat dari pemikiran yang serupa, agama atau bagaimana dia menanggapi tentang masa depan.

7. Suka Berbohong
Anda bisa menilai dia berbohong dari kata-katanya yang tidak pernah konsisten atau dia sering menyembunyikan ponselnya. Apalagi jika dia sudah sering ketahuan berbohong. Pria yang sering berbohong sangat sulit diajak untuk berkomitmen akan segala hal.

8. Memonopoli Waktu Anda
Di awal hubungan, normal saja kekasih ingin selalu bersama sepanjang waktu. Tapi kalau dia mulai menuntut Anda untuk menghabiskan waktu hanya untuknya, ini bisa menjadi tanda bahwa dia ingin 'menguasi' Anda.

"Jika seseorang mencintai Anda, mereka ingin Anda memiliki jaringan sosial yang luas dan dekat dengan keluarga serta teman. Dia tahu itu akan membuat Anda lebih baik," papar Freed.

9. Finansial yang Buruk
Wajar saja jika sesekali tidak memiliki uang. Tapi jika ini terjadi terus-menerus pada pasangan, Anda patut mencurigainya. Finansial pria yang buruk menunjukkan dia belum dewasa dan tidak bisa bertanggung jawab.

10. Dia Tidak Menjadikan Anda Prioritas
Ketika Anda tidak menjadi prioritasnya maka lambat laun Anda tidak akan bahagia. Mungkin pada awalnya Anda bisa menerima. Tapi tetap saja, wanita lebih senang dengan pria yang mau sedikit berkorban dengan waktunya.

11. Pemarah
Menurut Lawrence Kane, penulis 'The Little Black Book of Violence', pria yang tidak bisa menahan amarahnya merupakan tanda yang tidak baik pada hubungan. Meskipun dia belum pernah marah pada Anda, tapi jika pria terlihat sangat mudah marah dengan orang-orang di sekitarnya, sampai melakukan kekerasan fisik, Anda perlu berhati-hati. Besar kemungkinan dia akan berlaku sama pada Anda nantinya.

11% Penduduk Indonesia Berisiko Diabetes

PDF Print E-mail

JAKARTA--Angka prevalensi penderita diabetes tanah air berdasarkan data Departemen Kesehatan (Depkes) pada tahun 2008 mencapai 5,7% dari jumlah penduduk Indonesia atau sekitar 12 juta jiwa. Yang mengejutkan, angka prevalensi pre-diabetes mencapai dua kali lipatnya atau 11% dari total penduduk Indonesia. Berarti, jumlah penduduk indonesia yang terkena diabetes akan meningkat dua kali lipat dalam beberapa waktu mendatang.

Fakta tersebut disampaikan DR. dr. Achmat Rudijianto, SpPD-KEMD, ketua Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) dalam acara Peringatan Hari Diabetes Dunia yang berlangsung di Jakarta, Senin (9/11).

Achmat juga mencatat, pada daerah seperti Papua Barat memiliki angka prevalensi diabetes terhitung kecil dari angka rata-rata diabetes nasional yaitu berada pada angka 1,7 % namun angka prevalensi prediabetes bisa mencapai 20 kali lipatnya atau sekitar 21.6%.

"Kalau dibiarkan 12 juta penderita diabetes pada tahun 2010 akan meningkat 2 kali lipat atau menjadi 24 juta jiwa pada tahun 2030," tukasnya.

Achmat menambahkan, 50% dari individu yang berada pada posisi pre-diabetes akan menderita diabetes. Terlebih angka individu pre-diabetes tertinggi berada pada rentang usia 12-17 tahun dengan prosentase 27%.

"Umumnya faktor resiko penyebab pre-diabetes merupakan kegemukan dan gaya hidup. Apalagi remaja yang merupakan usia paling rentan. Mereka bukan lagi disebut anak-anak dan juga orang dewasa. Maka perhatian terhadap gaya hidup anak mutlak diperlukan," tegasnya.

Oleh karena itu, masih menurut Achmat, fase pre-diabetes ini yang kemudian menjadi fokus Federasi Diabetes Internasional untuk mencegah meningkatnya jumlah angka penderita diabetes."Program edukasi perlu dijalankan sebagai solusi menekan angka prevalensi pre-diabetes sebelum mencapai fase diabetes," tegasnya.

Pentingnya Edukasi

Tindak pencegahan merupakan solusi efektif namun sering diacuhkan. Ibarat pepatah "Anjing Menggonggong Kafilah Berlalu", keberadaan tindak pencegahan seolah menjadi angin lalu. Padahal,  biaya kesehatan yang dikeluarkan dapat ditekan ketika menjalankan langkah pencegahan.

Namun, edukasi yang diperlukan bukanlah semacam seminar atau lebih lebih kepada teori. Diperlukan sebuah keseimbangan antara praktek dan teori guna menjadi kunci sukses menangkal perkembangan pre-diabetes menjadi diabetes.

Menurut DR. Roy Panusunan SpPD-KEMD, ketua konsultasi diabetes RS Pantai Indah Kapuk, keberadaan edukator diakui sering dianggap remeh. Walau sebenarnya tidak semua individu pre-diabetes dan penderita diabetes memahami betul segala hal tentang diabetes. "Peran edukator memang terlihat sederhana tapi akan menjadi kompleks ketika mengintegrasikan diri dengan kultur masing-masing penderita diabetes," tukas Roy.

Dia mencontohkan, bagaimana negara Naulu yang berada di tengah samudera pasifik menangani tingginya angka penderita diabetes. Negara tersebut hanya memiliki luas 21 kilometer persegi dengan populasi penduduk sekitar 13.000 jiwa. Guna mengangani masalah diabetes di wilayahnya, negara tersebut mewajibkan warganya untuk senantiasa membawakan tari tradisional negara tersebut secara rutin melalui panduan edukator.

Dari contoh tersebut, kata Roy, bisa dijadikan panduan bahwa edukasi harusnya berbaur dengan kultur masyarakat. Dengan begitu program kesehatan untuk menekan laju penderita diabetes bisa dilakukan secara optimal. Adapun program yang disarankan meliputi pemberian seminar kesehatan, konsultasi gizi, perawatan kaki, senam diabetes secara rutin dan jalan kaki minimal 30 menit dalam sehari.

"Program ini, apabila dilakukan secara terintegrasi, konsisten dan terpadu dapat menghasilkan manfaat yang maksimal. Minimal, pasien dengan sendirinya akan menikmati bahkan menjadikannya semacam gaya hidup yang baru, " tukasnya.

Sering Bingung

Sering kali, individu pre-diabetes merasa bingung untuk mencari informasi dan pencegahan yang tepat. Pada akhirnya, sebagian besar dari mereka melalui fase diabetes.

Bong Lay Tjun misalnya, pria berusia 48 tahun ini merupakan satu dari sekian banyak individu pre-diabetes yang akhirnya menjadi diabetes lantaran minimnya informasi yang diketahui. Akibatnya, selama 18 tahun lebih, Tjun hidup dengan diabetes. "Saya bingung mau tanya kemana? Tanya ke orang yang bukan ahlinya malah tambah amburadul, " imbuhnya.

Tjun, awalnya merupakan individu yang memiliki kebiasaan buruk mengkonsumsi kopi dengan memakai gula mencapai 3 sendok makan. Selain itu, Tjun juga gemar mengkonsumsi makanan apapun jauh melebihi jumlah kalori yang dibutuhkan. Maka tak heran, saat dicek gula darahnya, kandungan gula dalam darah Tjun mencapai angka 300 dan 400 dengan A1C yang mencapai angka 8.

Tjun akhirnya mengikuti program edukasi "Pandu Diabetes" yang dijalankan Rumah sakit Pantai Indah Kapuk. Berkat program tersebut, Tjun kini tak lagi bergantung pada obat-obatan.

"Edukasi itu memberitahu hal-hal yang kami tidak tahu. Seperti misal, bagaimana kami menjaga pola makan dan melakukan senam secara rutin. Edukasi juga menghindarkan saya dari stres karena larangan-larangan yang berasal dari orang-orang yang tak memahami benar diabetes," tukasnya.

Tjun mengarisbawahi, pelaksanaan program edukasi akan berhasil apabila diikuti mind set yang kuat untuk sembut dari diabetes. Masalah mind set ini yang dianggap Tjun merupakan hal yang terberat dan tersulit.  "Saya kira, bantuan dan dukungan orang-orang terdekat akan menjadikan segala sesuatu jauh lebih mudah," tukasnya.

Hal itu, juga dibenarkan oleh Dr. Roy. Menurut dia, masalah kultur dan pola pikir merupakan hal yang terkait. Bedanya, pola pikir terbentuk dari lingkungan atau kultur. Bila lingkungan atau kultur memahami betul masalah diabetes maka akan berimplikasi pada pola pikir.

"Perubahan pola pikir memang hal tersulit karena menyangkut penanaman nilai-nilai pendidikan dari awal," tegasnya. Maka dari itu,  tambahnya, persoalan pola pikir memerlukan proses yang panjang dan perlu dukungan dari dalam diri pasien dan keluarganya. cr2/rin . sumber: http://republika.co.id
(diambil dari http://kliniksehat.com)